Sabtu, 10 Juni 2017

TUGAS SOFT SKILL 3


 TUGAS SOFTSKILL 3




DisusunOleh :

Nama               : Khalifah Agung Sedayu
NPM                : 25414849
Kelas               : 3IC09





FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK MESIN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017




 

 

 

 

 

 




 




PENDAHULUAN



Perawatan di suatu industri merupakan salah satu faktor yang penting dalam mendukung suatu proses produksi yang mempunyai daya saing di pasaran. Produk yang dibuat industri harus mempunyai hal-hal berikut:
    Kualitas baik

    Harga pantas
    Di produksi dan diserahkan ke konsumen dalam waktu yang cepat.

Oleh karena itu proses produksi harus didukung oleh peralatan yang siap bekerja setiap saat dan handal. Untuk mencapai hal itu maka peralatan-peralatan penunjang proses produksi ini harus selalu dilakukan perawatan yang teratur dan terencana.
 Secara skematik, program perawatan di dalam suatu industri bisa dilihat pada gambar 1.
 

Perawatan : Suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang, memperbaikinya sampai pada suatu kondisi yang dapat diterima.
 Merawat   dalam   pengertian   “suatu   kondisi   yang   dapat   diterima”  antara   suatu perusahaan berbeda dengan perusahaan lainnya.  Mengapa ada bagian perawatan?

Dibentuknya bagian perawatan dalam suatu perusahaan industri dengan tujuan :


1.  Agar mesin-mesin industri, bangunan, dan peralatan lainnya selalu dalam keadaan siap pakai secara optimal.

2.  Untuk menjamin kelangsungan produksi sehingga dapat membayar kembali modal yang telah ditanamkan dan akhirnya akan mendapatkan keuntungan yang besar.

Siapa yang berkepentingan dengan bagian perawatan?

1.  Penanam modal (investor).

2.  Manager.

3.  Karyawan perusahaan yang bersangkutan.




Bagi investor perawatan penting karena:
1.  Dapat melindungi modal yang ditanam dalam perusahaan baik yang berupa bangunan gedung maupun peralatan produksi.

2.  Dapat menjamin penggunaan sarana perusahaan secara optimal dan berumur panjang.

3.  Dapat menjamin kembalinya modal dan keuntungan.

4.  Dapat menjamin kelangsungan hidup perusahaan.

5.  Dapat mengetahui dan mengendalikan biaya perawatan dan mengembangkan data- data operasi yang berguna untuk membantu menentukan anggaran biaya dimasa yang akan datang.  Bagi para manager perawatan penting dengan harapan dapat membantu:

1.    Melindungi bangunan dan instalasi pabrik terhadap kerusakan.

2.    Meningkatkan daya guna serta mengurangi waktu menganggurnya peralatan.

3.    Mengendalikan dan mengarahkan tenaga karyawan.

4.    Meningkatkan efisiensi bagian perawatan secara ekonomis.

5.    Memelihara instalasi secara aman.

6.    Pencatatan perbelanjaan dan biaya pekerjaan.

7.    Mencegah pemborosan perkakas suku cadang dan material.

8.    Memperbaiki komunikasi teknik.

9.    Menyediakan data biaya untuk anggaran mendatang.

10.  Mengukur hasil kerja pabrik sebagai pedoman untuk menempuh suatu kebijakan yang akan datang.








Tujuan utama perawatan:

1.     Untuk memperpanjang umur penggunaan asset.
2.     Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi dan dapat diperoleh laba yang maksimum.
3.     Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu.
4.     Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan peralatan tersebut.





PENGORGANISASIAN DEPARTEMEN PERAWATAN



Dalam pengorganisasian pekerjaan perawatan, perlu diselaraskan secara tepat antara faktor-faktor keteknikan, geografis dan situasi personil yang mendukung.
 Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan departemen perawatan adalah:

a.  Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan perawatan akan menentukan karakteristik pengerjaan dan jenis pengawasan. Jenis-jenis pekerjaan perawatan yang biasanya dilakukan adalah : sipil, permesinan, pemipaan, listrik dan sebagainya.
b.  Kesinambungan Pekerjaan

Jenis pengaturan pekerjaan yang dilakukan di suatu perusahaan/industri akan mempengaruhi jumlah tenaga perawatan dan susnan organisasi perusahaan. Sebagi contoh, untuk pabrik yang melakukan aktifitas pekerjaan lima hari kerja seminggu dengan satu shift, maka program perawatan preventif dapat dilakukantanpa menganggu kegiatan produksi dimana pekerjaan perawatan bisa dilakukan diluar jam produksi. Berbeda halnya dengan aktifitas pekerjaan produksi yang kontinyu ( 7 hari seminggu, 3 shift sehari) maka pekerjaan perawatan harus diatur ketika mesin sedang berhenti beroperasi.
c.  Situasi Geografis

Lokasi pabrik yang terpusat akan mempunyai jenis program perawatan yang berbeda jika dibandingkan dengan lokasi pabrik yang terpisah-pisah. Sebuah pabrik besar dan bangunannya tersebar akan lebih baik menerapkan program perawatan lokal masing-masing (desentralisasi), sedangkan pabrik kecil atau lokasi bangunannya berdekatan akan lebih baik menerapkan sistem perawatan terpusat
(sentralisasi).
d.  Ukuran Pabrik

Pabrik yang besar akan membutuhkan tenaga perawatan yang besar dibandingkan dengan pabrik yang kecil, demikian pula halnya bagi tenaga pengawas.


e.  Ruang lingkup bidang perawatan pabrik

Ruang lingkup pekerjaan perawatan ditentukan menurut kebijaksanaan manajemen. Departemen perawatan yang dituntut melaksanakan fungsi primer dan sekunder akan membutuhkan supervisi tambahan, sedangkan departemen perawatan yang fungsinya tidak terlalu luas akan membutuhkan organisasi yang lebih sederhana.
f.   Keterandalan tenaga kerja yang terlatih

Dalam membuat program pelatihan, dipertimbangkan terhadap tuntutan keahlian dan keandalan pada masing-masing lokasi yang belum tentu sama.

Konsep Dasar Organisasi Departemen Perawatan

Beberapa konsep dasar organisasi perawatan adalah :

a.    Adanya pembatasan wewenang yang jelas dan layak untuk menghindari terjadinya tumpang tindih dalam kekuasaan.
b.    Hubungan vertikal antara atasan dan bawahan yang menyangkut masalah wewenang dan tanggung jawab dibuat sedekat mungkin.
c.     Menentukan jumlah optimum pekerja yang ditangani oleh seorang pengawas.
d.    Susunan personil yang tepat dalam organisasi. Prinsip-prinsip Organisasi Departemen Perawatan a. Perencanaan organisasi yang logis

                       Bertujuan untuk mencapai tujuan produksi :
    Ongkos perawatan untuk setiap unit produksi diusahakan serendah mungkin
    Meminimumkan bahan sisa atau yang tidak standar
    Meminimumkan kerusakan peralatan yang kritis
    Menekan ongkos perawatan peralatan yang non-kritis serendah mungkin
    Memisahkan fungsi administratuf dan penunjang teknik.

b.     Fasilitas yang memadai:
   Kantor : lokasi yang cocok, ruangan dan kondisi ntempat kerja yang baik.
   Bengkel : tempat pekerjaan, lokasi bangunan, ruangan dan peralatan.
   Sarana komunikasi : telepon, pesuruh dll.

c.     Supervisi yang efektif

Diperlukan dalam mengelola pekerjaan, dimana :

   Fungsi dan tanggung jawab jelas

   Waktu yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan

   Latihan khusus untuk memenuhi kecakapan

   Cara untuk menilai hasil kerja

d.     Sistem dan kontrol yang efektif :

   Jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan

   Kualitas hasil pekerjaan perawatan

   Ketelitian pekerjaan perawatan (tidak terjadi over maintenance)

   Penampilan kerja tenaga perawatan

   Biaya perawatan.

Berikut diberikan sebuah bentuk struktur organisasi departemen perawatan di industri.

 



JENIS JENIS PERAWATAN



Dalam istilah perawatan disebutkan bahwa disana tercakup dua pekerjaan yaitu istilah “perawatan” dan “perbaikan”. Perawatan dimaksudkan sebagai aktifitas untuk mencegah kerusakan, sedangkan istilah perbaikan dimaksudkan sebagai tindakan untuk memperbaiki kerusakan.
 Secara umum, ditinjau dari saat pelaksanaan pekerjaan perawatan, dapat dibagi menjadi dua cara:
1.     Perawatan yang direncanakan (Planned Maintenance).

2.     Perawatan yang tidak direncanakan (Unplanned Maintenance).
Secara skematik pembagian perawatan bisa dilihat pada gambar berikut:


 


 

Sistem Organisasi Untuk Perencanaan Yang Efektif


Perencanaan yang ditangani oleh staf perawatan adalah untuk mempersiapkan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan perawatan. Bagian perencana bertanggung jawab terhadap perencanaan:
a.      Sistem order pekerjaan.
b.      Perencanaan estimasi.
c.      Penjadwalan.
d.      Kontrol jaminan order
e.      Laporan hasil kerja.

Pada bagan dibawah ini diperlihatkan salah satu contoh hubungan fungsi perencanaan yang diorganisasikan dalam struktur jenis perawatan

  

Estimasi Pekerjaan


Perencanaan perawatan diadakan untuk membuat jadwal kerja dan kontrol yang dibutuhkan dalam menetapkan waktu yang diperlukan untuk melakukan kerja. Penilaian waktu kerja dilakukan oleh seorang estimator. Penilaian dengan kwalitas tinggi akan dihasilkan dari seorang estimator yang berpengalaman, berpengetahuan dan berkemampuan dalam bidang estimasi.
 Kerugian-kerugian dari estimasi yang dibuat oleh pengawas adalah sebagai berikut:

a.      Estimasi tidak tetap dan tidak teliti.
b.      Estimasi sangat bervariasi ketelitiannya bila estimator berbeda-beda.
c.      Metode pembandingnya sulit.
d.      Latihan estimator tidak mudah.

e.      Kebenarannya hampir tidak mungkin.
Suatu metode estimasi yang terarah, disebut sistem data historis, dengan memakai nilai waktu rata-rata berdasarkan pengalaman masa lalu. Namun metode data historis juga mempunyai kelemahan yaitu:
a.   Nilai  waktu rata-rata yang  direfleksikan dari harga lama tidak  seteliti  waktu sekarang.
b.   Metode yang berganti-ganti sulit membandingkannya.
c.    Pekerjaan yang baru sulit ditaksir.

d.   Kekurangan masa lalu menjadi dasar pada sistem.


a.          Adanya perhatian yang penuh untuk mengelola seluruh sarana dalam melayani program perawatan.

 

  
 Keterangan  :  Catatan-catatan  yang  harus  dibuat  harus  dapat  menunjang  dalam perencanaan perawatan.



Identifikasi Fasilitas Industri


a. Simbol Identitas

Dalam pemberian identitas, perlu diperhatikan supaya jangan terjadi penandaan yang mempunyai arti sama pada peralatan yang berbeda. Tiap bagian harus diidentifikasikan dengan suatu simbol yang mengandung arti jelas menurut instruksi, catatan, kartu pekerjaan, spesifikasi, laporan dan lain-lainnya.






Hal-hal penting dalam pemberian identitas adalah:

1.    Tidak  terjadi kesalahan dalam  pemberian identitas  pada bagian yang dimaksud.
2.    Pemberian identitas pada masing-masing bagian mempunyai arti yang ada kaitannya dengan dokumen.
3.    Melokasikan  tanda-tanda  yang  dimaksud  pada  bagian-bagian  yang mudah terlihat.
4.    Identifikasi menunjukkan  departemen,  seksi, kelompok  atau jenis  dari bagian-bagian yang dimaksud.
 Identitas yang diberikan dapat diberikan dengan kode warna, bentuk, pola, nama, huruf, angka atau gabungan dari semuanya.
 Berikut  ini  adalah  contoh  dalam  pemberian  kode  identitas  pada  tiap departemen.
    Pengecoran logam (Foundry) : F

    Ruang Penyimpanan alat (Toolroom) : T
    Bengkel Mesin (Machine shop) : M
    Ruang Ketel (Boiler Room) : B
Identitas dengan kode M 42 artinya:
                                   M : Departemen Bengkel               mesin
                                   42 : Nomor bagian di dalam departemen
M 42 : Menunjukkan nomor bagian 42 di dalam bengkel mesin.

Pemakaian metode identifikasi diatas ada kelemahannya, karena kode identitas tersebut hanya dapat menunjukkan informasi yang terbatas, dan huruf abjad sulit disesuaikan dengan sistem mekanisasi.
 Suatu pendekatan dasar dalam pembuatan identitas menurut angka dapat diterapkan pada mesin-mesin perkakas di industri besar yang terdiri dari beberapa departemen. Sebagai contoh:
        Dua angka pertama menunjukkan lokasi mesin, misalnya : departemen.

        Dua angka berikutnya menunjukkan jenis mesin, misalnya : mesin bubut, mesin frais dsb.
        Dua  angka  terakhir  menunjukkan  nomor  mesin  dalam  kelompok  jenisnya, misalnya : mesin bubut no. 1, mesin bubut no. 2 , dsb.




Sebagai contoh masing-masing kelompok angka diindek seperti berikut:

Contoh indek lokasi :
01 Bengkel Mesin
2         Bengkel Las
3         Bengkel Pengepasan
4         Bengkel Pola
5         Bengkel Pengecoran Logam
06 Bengkel Press
7                       Ruang Ketel
8                       Ruang Kompressor
9                       Bengkel Perawatan Contoh Indek Jenis Mesin:
1         Mesin Bubut
2         Mesin Frais Universal
03 Mesin Sekrap
4         Mesin Perata
5         Mesin Gerinda Datar
06  Mesin Gerinda Silinder
07  Mesin Bor, dst
                       Contoh Penerapan :

 



 

 Daftar Fasilitas


Daftar fasilitas adalah suatu catatan mengenai data-data teknik dari suatu peralatan. Daftar fasilitas ini bisa dipakai sebagai referensi untuk:
           Menetapkan spesifikasi yang asli, kinerja semula.

           Menetapkan batas yang direkomendasikan, pengepasan, toleransi.
           Membantu  dalam  pelayanan  suku  cadang  dan  cara  pemasangannya  yang benar.
           Meyediakan informasi yang diperlukan untuk rencana pemindahan, relokasi, sistem pondasi yang aman dan lay-out pabrik.
Keterangan pada pelat nama dan informasi dari pabrik pembuatnya dapat dijadikan dasar untuk melengkapi informasi yang dibutuhkan. Gambar 1, menunjukkan contoh informasi yang didapat dari data suatu motor listrik.
 


Daftar Rencana Perawatan


Daftar rencana perawatan adalah suatu rencana pekerjaan perawatan yang akan dilakukan berdasarkan luasnya kejadian. Untuk melakukan perawatan pada tiap peralatan, perlu adanya daftar rencana perawatan yang disusun menurut pekerjaan yang dibutuhkan, seperti: inspeksi, pelumasan, penyetelan, penggantian komponen, overhaul dsb. Frekuensi perawatan ini perlu dipertimbangkan menurut efisiensi peralatan dalam fungsinya.
 Gambar2 adalah contoh dari suatu daftar rencana perawatan yang merupakan

 petunjuk dalam melakukan inspeksi pada motor induksi.
 


 

Daftar rencana perawatan merupakan petunjuk pekerjaan meskipun tidak mutlak, tetapi setidak-tidaknya dapat memberikan informasi awal untuk melakukan perawatan.

Spesifikasi Pekerjaan


Spesifikasi pekerjaan adalah suatuketerangan mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Untuk melakukan perawatan secara efektif, perlu ditentukan adanya keterangan pekerjaan yang harus dilengkapi menurut kepentingannya. Pekerjaan- pekerjaan penting yang menunjang efektifitas perawatan perlu ditentukan menurut spesifikasi pekerjaan yang jelas untuk petunjuk pelaksanaan perawatan. Tabel 1 menunjukkan contoh spesifikasi pekerjaan dalam daftar rencana perawatan untuk mesin diesel penggerak generator listrik.


 

Dengan adanya spesifikasi pekerjaan, maka penyelesaian tugas perawatan akan lebih mudah, terarah dan sesuai yang ditentukan. Setiap tugas yang dicatat dalam daftar rencana perawatan  dapat dikelompokkan secara  khusus menurut jenis pekerjaannya. Seperti contoh diatas, dikelompokkan atas: Servis A Harian, dan Servis B Mingguan.
 Program perawatan adalah suatu daftar lokasi setiap pekerjaan perawatan berikut dengan penentuan waktu pelaksanaannya masing-masing. Program perawatan merupakan susunan daftar kegiatan perawatan untuk setiap peralatan yang tercatat. Tujuan pembuatan program perawatan adalah:
a.      Untuk menerapkan pekerjaan yang direncanakan:

       Meratakan beban kerja perawatan yang terjadi dalam setahun.

       Menjamin  agar  tidak  terjadi  kelalaian  pekerjaan  perawatan  pada  suatu peralatan.


       Menjamin bahwa frekuensi perawatan yang dilakukan berdasarkan kebutuhannya masing-masing.
       Mengkoordinasikan pekerjaan perawatan untuk peralatan yang saling berhubungan.  • Mengkoordinasikan pekerjaan perawatan dengan kebutuhan produksi.

b.      Mengajukan semua kebutuhan untuk pekerjaan perawatan, mengadakan program yang dijalankan untuk waktu sekarang dan berikutnya (dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Membantu usaha dalam perencanaan suku cadang, tenaga kerja yang dibutuhkan dan pengontrolan anggarannya.
c.      Untuk meningkatkan pekerjaan perawatan yang akan dilaksanakan (dalam jangka pendek).
       Merumuskan rencana kerja mingguan (dalam waktu dekat)

       Memberikan peluang waktu untuk kegiatan produksi.
       Menyediakan waktu untuk pengawasan pekerjaan, suku cadang, sub kontraktor, dan lain-lain.
 

Program perawatan harus dibuat dengan jangka waktu yang fleksibel, biasanya ditentukan berdasarkan periode tahunan. Bila pengoperasian pabrik dapat berlangsung selama dua tahun atau tiga tahun, maka rencana program untuk pekerjaan perawatan- perawatan yang besar (overhaul) dapat diperpanjang periode waktunya.


Dalam mempersiapkan program perawatan ini perlu dikonsultasikan bersama departemen produksi untuk dipertimbangkan dengan jadwal produksi. Sehingga dengan demikian kegiatan perawatan tidak menganggu pelaksanaan  kegiatan produksi.



Perencanaan Waktu Perawatan


Pelayanan perawatan pada masing-masing peralatan perlu diseimbangkan, tidak terlalu kurang dan tidak terlalu lebih. Perawatan terlalu kurang (under maintained) dapat mengakibatkan timbulnya kerusakan yang lebih awal, sedangkan terlalu banyaknya perawatan (over maintained) dapat menimbulkan pekerjaan-pekerjaan yang tidak diperlukan sehingga terjadi pemborosan.
                             Frekuensi pekerjaan perawatan dapat ditentukan berdasarkan:

a.  Menurut skala waktu kalender, misalnya:

   Mingguan                    • Bulanan
   Kwartalan
   Tahuan, dst.

b.  Menurut waktu operasi:

   Jam operasi
   Jumlah putaran operasi • Jarak tempuh




















D.Pencatatan dan Analisis :

Catatan-catatan yang perlu dibuat untuk membantu kelancaran pekerjaan perawatan ini adalah:
1.      Buku manual operasi.

2.      Manual instruksi perawatan.
3.      Kartu riwayat mesin.
4.      Daftar permintaan suku cadang.
5.      Kartu inspeksi.
6.      Catatan kegiatan harian.
7.      Catatan kerusakan, dan lain-lain.

Catatan-catatan ini akan banyak membantu dalam menentukan perencanaan dan keputusan-keputusan yang akan diambil.
               
  Analisis yang dibuat berdasarkan catatan-catatan tersebut akan membantu dalam hal:


 



1.    Melakukan  pencegahan  kerusakan  daripada  memperbaiki  kerusakan  yang terjadi.
2.    Mengetahui tingkat kehandalan mesin.

3.    Menentukan umur mesin.

4.    Memperkirakan kerusakan mesin dan merencanakan untuk memperbaikinya sebelum terjadi kerusakan.  

5.     Menentukan frekuensi pelaksanaan inspeksi.

6.    Menentukan untuk pembelian mesin yang lebih baik dan cocok berdasarkan pengalaman masa lalu.


Contoh 1. Ilustrasi dari penggunaan chart gantt untuk penjadwalan pekerjaan overhaul pabrik, disusun sebagai berikut:
 



Semua aktivitas dari program kerja yang telah disusun dapat dilihat pada gambar 1. Dari chart pada gambar 1, dapat diperoleh informasi seperti berikut:
 


Chart dapat berguna untuk memberi keterangan, namun dalam pemakaiannya tidak selalu mampu menanggulangi segala persoalan yang timbul. Dalam chart ini tidak ditunjukkan secara jelas adanya faktor yang saling ketergantungan dari berbagai aktivitas yang satu dengan lainnya. Untuk membantu mengatasi keterbatasan tersebut, dapat memungkinkan diterapkan sistem  berangkai guna menghubungkan berbagai aktivitas yang saling berkaitan. Pemakaian cara yang lebih baik ditunjukkan  oleh contoh 2 (gambar 1).
 

Gambar 1. Penggunaan chart Gantt.

Pada contoh 2, banyaknya aktivitas, lamanya waktu, saat mulai dan selesainya sama seperti yang diberikan contoh 1, tetapi kejadian dalam contoh 2 menggunakan sistem perangkai yang diterapkan pada chart. Dengan adanya tambahan informasi tersebut, kini dapat lebih nyata dalam aplikasinya.
      Aktivitas A harus selesai sebelum aktivitas B dimulai.

      Aktivitas B harus selesai sebelum aktivitas C dimulai.
      Aktivitas D harus selesai sebelum aktivitas C dimulai.
      Aktivitas E harus selesai pada waktu aktivitas C selesai 2/5 bagian.
      Aktivitas F harus selesai sebelum aktivitas E dimulai, tetapi  dalam  keadaan  ini terpisah satu minggu antara selesainya aktivitas  F  dan  mulainya  aktivitas  E. Dalam hal ini penyelesaian  untuk aktivitas F tidak sekritis seperti   pada penyelesaian aktivitas A, B, D dan E.
      Aktivitas F dan G harus dimulai secara bersamaan.

Penyelesaian aktivitas G tidak ditentukan selama waktunya tidak melebihi masa penyelesaian proyek, yaitu pada akhir minggu ke-15.
Aktivitas A, B dan C masing-masing berjalan secara langsung dan berurutan membentuk suatu rangkaian aktivitas yang berkesinambungan dari saat mulai sampai selesainya tugas proyek.
 Jadi jadwal yang ketat secara penuh harus diikuti oleh ketiga aktivitas yang sangat dipentingkan, sehingga tidak terjadi pemisahan waktu. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya perpanjangan waktu dalam penyelesaian proyek yang telah ditentukan. Dalam jaringan kerja ini, A, B dan C dikategorikan sebagai aktivitas yang kritis, oleh karenanya perlu dibuat jadwal kritisnya. Sedangkan pengaturan  jadwal untuk aktivitas D, E, F dan G dapat dibuat lebih leluasa selama masih dalam batas waktu luangnya.
 Walaupun contoh 1 dan contoh 2 mempunyai kesamaan aktivitas  dan alokasi waktu penyelesaian, namun dengan adanya perangkaian pada chart (contoh 2) dapat lebih meningkatkan kemampuan dalam perencanaan atau pengontrolan proyek.





 Proyek Perencanaan Sumber Daya



Misalkan suatu proses terdiri dari lima unit utama yang saling berhubungan, harus dihentikan untuk dilakukan perawatan, perbaikan dan modifikasi. Personil yang melakukan pekerjaan ini ditugaskan dari pusat bagian perawatan, setiap  personil hanya dapat melakukan tugas menurut keahliannya masing-masing. Personil yang terlibat dalam pekerjaan ini adalah:
                      1 pekerja mekanik

                       1 pekerja listrik
                       1 pekerja instrumen
                       1 pekerja las
                       1 pekerja insulator panas
                       1 operator pembersihan kimia
Perkiraan alokasi waktu kerja (dalam hari) dari masing-masing elemen pekerjaan pada tiap unit, dapat dilihat dalam tabel berikut:
 

Dalam penyelesaian pekerjaan, pada tiap akhir periode ditambah satu hari untuk pemeriksaan semua unit secara serentak. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa:
a.       Penyusunan urutan pekerjaan pada tiap unit dapat saling menunjang.

b.       Setiap tugas (elemen pekerjaan), sekali dimulai dapat berlangsung terus tanpa terjadi pemisahan, sehingga akan menghasilkan:
           Waktu  yang  optimum  untuk  penyelesaian  pekerjaan  (overhaul)  termasuk dengan melakukan pemeriksaannya.  • Program kerja dapat diterapkan pada tiap unit.

           Program kerja untuk tiap unit melibatkan seluruh pekerja yang bersangkutan.

Prinsip dan prosedur yang sama dapat pula diterapkan untuk sumber-sumber lainnya, misal dalam pengalokasian peralatan pabrik seperti : kompresor, pesawat angkat, generator dan lain-lain yang biasa digunakan pada setiap tempat.
 Prosedur dalam mengalokasikan seluruh pekerjaan perawatan ini adalah sebagai berikut:
a.        Mengkalkulasi waktu kerja total yang dibutuhkan untuk  overhaul pada tiap unit dengan cara menjumlahkan waktu dari masing-masing elemen pekerjaannya.
                       Unit A : 2 + 2 + 4 + 3 + 2 = 13 hari kerja
                       Unit B : 2 + 6 + 4 + 4 = 16 hari kerja
                       Unit C : 2 + 4 + 5 + 3 = 14 hari kerja
                       Unit D : 3 + 3 + 3 + 2 = 11 hari kerja
Unit E : 1 + 1 + 3 = 5 hari kerja

b.        Mengkalkulasikan alokasi pekerjaan untuk tiap jenis keahlian.

Pekerjaan mekanik 15 hari kerja
Pekerjaan listrik 12 hari kerja
Pekerjaan instrumentasi 13 hari kerja
Pekerjaan las 9 hari kerja
Pekerjaan insulator panas 8 hari kerja
Pembersihan kimia 2 hari kerja
c.        Mempertimbangkan kedua hal tersebut di atas untuk menentukan berapa lama waktu yang akan dibutuhkan.
 Dalam perencanaan ini, waktu overhaul yang dibutuhkan pada unit B adalah 16 hari kerja. Jumlah waktu kerja dari unit B ini adalah yang terbanyak, oleh karenanya diambil sebagai dasar dalam menentukan banyaknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan. Seluruh pekerjaan yang telah diselesaikan perlu dilakukan pemeriksaan untuk menjamin kesiapannya, dan untuk ini diperlukan waktu 1 hari. Dengan demikian waktu minimum mutlak yang dibutuhkan untuk penyelesaian seluruh program perawatan tersebut tidak boleh kurang dari 16 hari + 1 hari (untuk pemeriksaan), jadi = 17 hari.
d.        Merencanakan setiap unit pekerjaan pada blok chart dengan skala yang tepat dan menganalisis urutan pekerjaan yang akan dilakukan.
e.        Menyusun program kerja.

Sebagai langkah awal dapat direncanakan bahwa waktu minimum yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua pekerjaan adalah 17 hari. Sebenarnya cara ini dilakukan untuk semua elemen pekerjaan pada unit B yang kritis, dan semua elemen pekerjaan yang termasuk dalam unit A, C, D dan E harus disesuaikan susunannya terhadap unit B. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 2a.
 Kalau pekerjaan tersebut  tidak  mungkin  diselesaikan dalam  waktu 17 hari, maka jangka waktunya harus ditambah sehingga mencapai optimum.

Gambar 2b adalah ilustrasi suatu program kerja yang lebih memadai dengan jumlah waktu totalnya: 18 hari + 1 hari untuk pemeriksaan = 19 hari. Suatu cara pendekatan dalam penyusunan program (gambar 2b) dapat dilakukan dengan mengatur beberapa elemen pekerjaan sedemikian rupa tanpa merubah jumlah waktu yang telah ditentukan pada program dasar.
f.        Dengan informasi yang dikutip dari program kerja, maka jadwal waktu untuk tiap jenis pekerjaan dapat ditentukan susunannya (Gambar 2c).
 
Gambar 2a. Program kerja yang direncanakan



























BAB VIII

 

PENERAPAN JADWAL KRITIS



Jadwal kritis adalah suatu metode perencanaan kerja yang dapat digunakan dalam mengevaluasi dan menyelesaikan proyek perawatan. Jadwal kristis  dibuat dengan sistem yang menggunakan diagram hubungan timbal-balik dari berbagai aktivitas yang dapat membantu dalam penyelesaian pekerjaan. Dengan jadwal kritis ini dapat diketahui mengenai pelaksanaan pekerjaan yang dinilai lebih penting, dan pekerjaan mana yang harus mendapat perhatian khusus. Disamping itu, dengan menerapkan sistem jadwal kritis dapat ditentukan urutan kejadian yang terkontrol setiap waktu.

Istilah-istilah berikut digunakan dalam menggambar jadwal kritis.


1.      Kejadian : adalah titik dimana operasi di mulai atau selesai dan digambarkan dengan lingkaran kecil.

2.      Aktivitas : menggambarkan kerja aktual yang diselesaikan dan digambarkan dengan sebuah garis yang menunjukkan waktu/tenaga kerja atau jam-mesin yang dibutuhkan untuk operasi. Panah pada garis menunjukkan urutan.

3.      Waktu total-T : Lamanya siklus di mana pekerjaan diselesaikan.


4.      Waktu aktivitas-t : lamanya setiap aktivitas atau operasi.


5.      Mulai paling awal (earliest start) : t            : waktu minimum dari awal siklus, sebelum
es operasi tertentu bisa dimulai (karena saling ketergantungan dari operasi).

6.      Selesai paling akhir (latest finish) : t : adalah waktu dari awal sampai operasi
lf tertentu mesti diselesaikan agar pekerjaan selesai sesuai target.

7.      Mulai paling akhir (latest start) dari operasi tertentu = t  - t
lf

8.      Selesai paling cepat (earliest finish) dari operasi tertentu = t       + t
es

9.      Kelonggaran waktu bebas (free float) dari kejadian tertentu = t  - t
                                                                                                                                                          lf      es
10.   Jalur  kritis  :  adalah  garis  aktivitas  di  keseluruhan  kejadian,  dimana  t        =  t .
es       lf Penyimpangan pada jalur kritis mempengaruhi penyelesaian pekerjaan. Jalur kritis ada jejaring ditunjukkan oleh garis tebal.




 


 







Penjelasan :

Bergantung pada hubungan antar berbagai operasi proses, jejaring digambarkan seperti terlihat pada gambar 1. Waktu/orang optimum atau jam-mesin ditulis untuk setiap aktivitas pada diagram jejaring. Garis putus-putus pada diagram (disebut aktivitas dummy) menunjukkan antar ketergantungan.
Overhaul mesin membutuhkan 56 jam untuk selesai, seperti yang ditunjukkan pada kejadian terakhir (22 pada diagram). Simbol berikut digunakan pada diagram yang merupakan waktu mulai paling cepat dan waktu selesai paling akhir. ( ) - earliest start (t ) aktivitas berikutnya.
es
 [ ] - latest finish (t ) aktivitas sebelumnya.
                                                                   lf

Untuk kejadian 21


t  = 56-6 = (50) jam lf     t = jalur paling panjang dari awal hingga kejadian 21.
                        es
Ada 5 jalur yang terdapat pada diagram yaitu:
1. 1-2-3-4-5-10-18-20-21 = 50 jam 2. 1-6-7-8-9-10-18-20-21 = 19 jam

3.  1-2-14-15-16-17-18-20-21 = 45 jam

4.  1-2-14-16-17-18-20-21 = 43 jam

5.  1-11-12-13-16-17-18-20-21 = 41 jam

Jalur pertama adalah jalur yang paling lama. Lama waktu jalur paling lama ini merupakan waktu mulai paling awal kejadian 21, yaitu:
t = 50 jam
             es

Untuk kejadian 18


t  = periode target proses yaitu 56 jam – jalur paling panjang dari kejadian 18 hingga
                       lf
kejadian terakhir 22)

Terdapat dua jalur dari kejadian 18 hingga kejadian 22, yaitu 18-20-21-22 (21 jam)

dan 18-19-22 (13 jam). Karenanya

t  = 56-21 = 35 jam lf
                       t = 35 jam
es  
Dengan cara yang sama, t dan t ditentukan untuk semua kejadian. Kejadian dimana
               lf               es t  = t disambung dengan garis tebal yang merupakan garis kritis dari siklus. lf             es






PENGELOLAAN DAN PENGONTROLAN



SUKU CADANG



Suku cadang atau material merupakan bagian pokok yang perlu diperhitungkan dalam pengaruhnya terhadap biaya perawatan. Biaya material dan suku cadang untuk perawatan biasanya berkisar antara 40 sampai 50 persen dari total investasi, termasuk adanya kerugian-kerugian karena kerusakan. Dengan demikian, rata-rata perusahaan mengeluarkan sekitar 15 sampai 25 persen dari total biaya perawatan untuk suku cadang dan material. Oleh karena itu, pemakaian material atau suku cadang direalisasikan sehemat mungkin dan perlu pengontrolan dalam pengelolaannya.

Pada dasarnya pengontrolan material atau suku cadang dapat ditentukan sesuai dengan kebutuhan usaha dan kondisi pengoperasiannya. Namun demikian perubahan dapat saja terjadi dan memerlukan pengaturan setiap waktu. Jadi setiap bagian perawatan perlu mengorgasisasian sistem penyimpanan suku cadang dan mengembangkan suatu program pengontrolan yang dibutuhkan secara khusus.
Dalam kaitan ini, penting adanya perhatian manajemen untuk pengontrolan material atau suku cadang yang dibutuhkan pada pekerjaan perawatan. Usaha-usaha yang perlu ditangani dalam mengelola dan mengontrol suku cadang mencakup sistem order, rencana teknik untuk mengganti atau memperbaiki, penanggulangan masalah produk yang berubah karena pengaruh material atau suku cadang, persediaan suku cadang sesuai dengan kebutuhan fasilitas yang akan menggunakannya.

Kontrol Suku Cadang


 Untuk pengelolaan suku cadang yang terkontrol dengan baik, perlu adanya:
a.  Sistem pencatatan (record system).


Penyimpanan suku cadang, material, dan perlengkapan lainnya harus tercatat secara sistematis. Perlu adanya sistem penomoran dalam pembukuan yang menjelaskan deskripsi, lokasi, biaya, sumber, dan lain-lain yang menjadi pokok dalam sistem pengolahan data.






b.  Sistem penyimpanan.


Sistem penyimpanan dapat diartikan sebagai sistematika dalam penempatan, penyimpanan dan pencatatan barang, komponen, suku cadang, atau material yang disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga akan mempermudah pelayanan pengoperasiannya secara praktis dan ekonomis.

Fungsi Kontrol Suku Cadang



a.         Mengelola penyimpanan barang secara aktif, termasuk tata letak, sarana untuk penyimpanan, pemanfaatan ruang gudang, prosedur penerimaan dan pengeluaran barang, suku cadang dan lain-lain.

b.         Tanggung jawab teknis untuk keberadaan suku cadang. Termasuk metode penyimpanan, prosedur perawatan untuk mencegah kerusakan, pencegahan kehilangan.

c.          Sistem pengontrolan stok (persediaan suku cadang). Catatan inventarisasi,
prosedur pemesanan, pengadaan barang.

d.         Perawatan untuk bahan-bahan khusus, dalam pengiriman barang, dalam proses pemakaian, kesiapan suku cadang dalam jumlah dan spesifikasi yang sesuai menurut kebutuhannya.

e.         Melindungi suku cadang dari kerugian atau kehilangan karena penyimpanan
yang kurang terkontrol, dan mencegah adanya pemindahan barang tanpa diketahui.

Dasar-dasar Kontrol Suku Cadang


Hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan suku cadang adalah bahwa penyimpanan stok tidak terlalu lebih atau tidak terlalu kurang dari kebutuhan. Jumlah maksimum dan minimum penyimpanan suku cadang harus ditentukan secermat mungkin. Batas-batas tersebut dapat ditentukan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan nyata (lihat gambar 1).


             
Faktor-faktor penting yang mendasari pengontrolan suku cadang, yaitu:

a.  Persediaan/stok maksimum.

Menunjukkan batas tertinggi penyimpanan suku cadang dengan jumlah yang menguntungkan secara ekonomi.
b.  Persediaan/stok minimum.

Menunjukkan batas terendah penyimpanan suku cadang dengan batas yang aman.
Untuk mengatasi kebutuhan suku cadang di atas batas normal, maka harus selalu ada persediaan dalam jumlah tertentu.


c.  Standar pemesanan.

Menunjukkan jumlah barang atau suku cadang yang dibeli pada setiap pemesanan. Pemesanan kembali dapat diadakan lagi untuk mencapai jumlah stok yang dibutuhkan.
d.  Batas pemesanan kembali.

Menunjukkan jumlah barang yang dapat dipakai selama waktu pengadaannya kembali (sampai batas stok minimum). Pada saat jumlah persediaan barang telah mencapai batas pemesanan, maka pemesanan yang baru segera diadakan.
e.  Waktu pengadaan.


Menunjukkan  lamanya  waktu  pengadaan  barang  yang  dipesan  (sejak  mulai pemesanan sampai datangnya barang pesanan baru).



























DAFTAR PUSTAKA


1.    Garg, HP. Industrial Maintenance. S. Chand & Company Ltd, 1997.

2.    Higgins, LR., PE. And LC. Morrow. Maintenance Engineering Handbook,       3
rd edition. Mc. GrawHill Book Company.


3.    Supandi. Manajemen Perawatan Industri. Ganeca Exact Bandung. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar